ACER Liquid Z120 - White SAMSUNG Galaxy Star [S-5282] - White APPLE iPhone 5 16GB - White SMARTFREN Andromax C

Tidak Terbukti, Irwansyah-Zaskia Pulang


Badan Narkotika Nasional (BNN) akhirnya  memulangkan Irwansyah dan Zaskia Sungkar, Selasa (29/1/2013), karena mereka bersama 8 orang lainnya tidak bersalah. Irwansyah dan Zaskia didampingi orangtuanya gembira meski protes surat pemulangan tertulis tersangka.
Irwansyah terlihat mengenakan baju berwarna hijau. Sedangkan istri, Zaskia Sungkar tampil dengan baju biru, berkerudung berwarna krem.
Humas BNN Kombes Pol Sumirat, menjelaskan sesuai hasil pemeriksaan terhadap 17 orang yang digerebek di rumah Raffi Ahmad di kawasan Jakarta Selatan, 10 orang dinyatakan tidak terbukti dan negatif, dua diantaranya adalah Irwansyah dan Zaskia Sungkar. Sementara 10 orang lagi termasuk Raffi Ahmad dan Wanda Hamidah masih dalam pemeriksaan.
Menurut Zaskia, dia bersama suaminya datang ke rumah Raffi Ahmad setelah terjadi penggerebekan petugas. Kedatangannya ke tempat itu untuk minta tandatangan giro dari Rafffi Ahmad. “Kami tidak bersalah,” jelas Zaskia.

Usai Diambil Nikmat Lalu Dipecat


SUNGGUH kasihan nasib Indri, 20, buruh garmen dari Semarang ini. Sebagai tenaga kerja wanita, akhirnya dia malah menjadi korban “tenaga kuda” atasannya. Paling tragis, setelah Indri kenyang diambil nikmat, bahkan sampai hamil 7 bulan, enak saja bos Hadi, 47, memecatnya.
Di mana saja perempuan cantik memang banyak godaan. Maka meski kecantikan itu sendiri sebuah karunia Illahi, jika tak mampu menjaganya, akan menjadi petaka bagi pemiliknya. Perempuan jelek bisa jalan bebas tanpa godaan, perempuan cantik di mana-mana ketemu sambang dalan (gangguan). Mending jika sekedar disuat-suit, banyak pula yang dicolak-colek bahkan sampai usaha perkosaan.
Gadis Indri termasuk wanita yang celaka akibat kecantikannya. Awalnya sih dia sangat bergembira, karena kecantikannya pula dia bisa diterima dengan mudah di perusahaan garmen. Eh nggak tahunya, ada udang di balik batu. Juragan Hadi dengan cepat menerimanya bekerja, karena dia ada target syahwat di belakangnya. Maksudnya, selain sebagai tenaga kerja, Indri hendak pula dijadikan pelampiasan “tenaga kuda”.
Indri memang gadis yatim piatu. Dalam usia masih anak-anak dia harus ditinggal mati kedua orangtuanya. Karenanya dia kemudian diasuh oleh kakaknya di Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Dia disekolahkan dari SD hingga tamat SMA. Sayangnya, karena modal cekak sang kakak tak mampu membiayai hingga perguruan tinggi. Jika sudah begini, mana lagi tujuannya jika tak masuk Fakultas Pabrik di kotanya.
Kebetulan di dekat rumahnya terdapat pabrik garmen. Iseng-iseng Indri melamar ke sana. Rupanya Hadi selaku juragan sangat tertarik pada penampilan gadis itu, sehingga tanpa melalui tes bertele-tele dia langsung diterima bekerja. Pekerjannya tiap hari hanya jahit menjahit, melayani pesanan bikin baju dan jaket berbagai instansi dan lembaga.
Sesuai dengan target semula, Hadi diam-diam mencoba mendekati Indri. Tanpa tujuan yang jelas dia suka dipanggil khusus ke ruang kerjanya. Eh tak tahunya, di sana Indri dirayu-rayu agar mau disetubuhi. Katanya, nanti dia akan diambil sebagai istri definitip dengan segala fasilitasnya. “Sekali kamu kunikahi, kamu takkan kusia-siakan. Aku kan bukan bupati Aceng Fikri….,” begitu kira-kira kiat Hadi meyakinkan Indri.
Sekali dua kali Indri masih menolak. Tapi lantaran juragan Hadi terus gencar merayu, akhirnya gadis itu bertekuk lutut dan berbuka paha juga. Inilah kali pertama juragan garmen itu “mbelah duren” jatohan, yang harum bahunya dan tebel-tebel dagingnya. Sampai capek Indri diklamuti bak duren sungguhan.
Sejak itu Indri sudah menjadi “menu” rutin juragan Hadi. Entah berapa kali dia digauli, tahu-tahu buruh garmen itu hamil 7 bulan. Seperti lazimnya korban penjahat kelamin, Indri juga minta pertanggungan jawab Hadi. Sayangnya bos garmen itu ingkar janji. Bukannya membawa gadis itu ke KUA dan didaftarkan sebagai calon mempelai, bahkan diberi surat pemecatan dengan alasan bisa merusak citra perusahaan.
Atas kesewenang-wenangan ini keluarga Indri masih mencoba jalan damai. Jika tetap mentok, Hadi akan dilaporkan ke DPRD Semarang dan Polres. Namun katika dikonfirmasi juragan itu sendiri selaku pihak terkait, dia membantah akan laporan Indri. Katanya, sama sekali dia tak menelantarkan bekas buruhnya. “Dia sudah saya kawin siri, dan selalu saya bantu keuangannya kok,” kilah Hadi.
Bantu keuangan atau goyangan, hayo….!!!

Istri Ngebon `Pemain`


DEMAM Piala Eropa ternyata juga dimanfaatkan para praktisi selingkuh. Ny. Yuliani, 20, dari Pidie (Aceh) ini misalnya, di kala suami asyik nobar Piala Eropa di rumah tetangga, dia malah ngebon “pemain” asing di kamarnya. Dan inilah yang terjadi, bola di TV belum juga goal, di kamar Yuliani kedudukan sudah 1-0.
Untuk meningkatkan mutu dan gengsi sebuah klub bola, ngebon atau transver pemain asing yang terkenal sudah biasa dilakukan. Namun ternyata, bukan saja dunia bola, transver pemain biasa juga dilakukan dalam dunia perselingkuhan. Tak puas dengan kinerja suami dalam urusan ranjang, banyak perempuan yang ngebon “pemain” asing ke dalam ranjangnya. Prestasinya memang cenderung luar biasa. Si pemain sangat lihai menggiring “bola”, sehingga berhasil mencetak gol-gol yang spektakuler.
Yuliani warga Dayah Caleu, Pidie Aceh, rupanya termasuk wanita yang tak puas dengan kinerja suami dalam urusan “bola”. Permainannya sangat monoton. Jarang sekali Umar, 26, bisa melakukan tendangan dua belas pas, dan dia juga tak kenal tendangan plintiran, sehingga cara membawa bola mudah ditebak. Paling bikin Yuliani kesal, jantung sudah kadung deg-degan, ternyata tembakan Umar meleset. “Sayang saudara saudara, pemain dengan nomer punggung sembilan gagal mencetak gol.” kata Sambas Atmadikarta di radio.
Tetapi, meski “main bola” kurang becus, Umar sangat gemar nonton bola, khususnya Piala Dunia dan Piala Eropa. Di kala musiam Piala Eropa sekarang ini, dia juga gemar nobar di rumah tetangga yang punya teve wide screen. Dia tak peduli dengan istri yang kesepian di rumah, dan terus memelototi layar teve sambil teriak-teriak bersama para tetangga.
Namun sesungguhnya Yuliani juga tak sepi-sepi amat. Karena dia berhasil menyulap kendala itu menjadi sebuah peluang. Terus terang saja, semenjak kinerja lakinya kurang memuaskan, diam-diam Yuliani ngebon “pemain” asing  dari lain kampung. Di hari-hari biasa mereka kencan di tempat jauh. Tapi sejak ada Piala Eropa, sengaja Yuliani membawa gendakannya ke dalam rumah. “Suamiku nonton bola di rumah tetangga, kita main bola sendiri,” kata Yuliani meyakinkan sang PIL.
Sebenarnya sangat riskan “main bola” di kandang lawan. Tapi karena Yuliani menjamin bahwa semua baik-baik saja adanya, Suhud, 24, memberanikan diri juga, itung-itung uji nyali. Maka menjelang pertandingan Inggris – Itali 25 Juni lalu, Suhud sudah deg-degan menunggu perintah lewat SMS, kapan dia bisa masuk ke arena lapangan kasur.
Nah, sekitar pukul 24.00 Umar pun pamit istri mau nobar di rumah tetangga. Bersamaan dengan perginya suami, Yuliani segera kontak sang PIL untuk segera merapat. Beberapa menit kemudian, istri Umar ini sudah asyik dengan “pemain” trasverannya. Dan ternyata Suhud memang pemain hebat, di TV bola masih stand 0-0, di kamar Yuliani kedudukan sudah 1-0.
Celakanya, usia “pertandingan” Suhud tidak segera kabur, malah ketiduran di sebelah Yuliani. Akibatnya, saat Umar pulang dari nobar jadi memergoki betapa Suhud kelonan dengan Yuliani. Langsung saja dia teriak, sehingga warga berdatangan. Saat diperiksa pengurus RT, Suhud jawabnya muter-muter. Umar yang emosi segera menghajarnya hingga babak belur. Dengan wajah simpang siur barulah PIL istrinya itu diserahkan ke Polres Pidie.
Untung “bola”-nya nggak dijadikan barang bukti.